Home

Prolog:

Membicarakan kerusakan lingkungan di Indonesia, dari mana kita mesti memulai? Dari Papua, dimana Freeport dan pembalakan liar telah meninggalkan luka mendalam terhadap Ibu pertiwi dan putra-putri Papua?Atau dari Kalimantan dimana penambangan macam-macam telah meninggalkan bumi Kalimantan keropos, dan menyisakan bom waktu bagi penduduknya? Atau dari Sumatra dimana kebakaran hutan dan pembalakan hutan juga semakin menjadi-jadi? Atau dari Jawa dimana polusi:tanah,air, udara sudah mencapai puncak dan kian tak terkendali?

Sekedar mengingatkan saja bahwa setiap hari sedikitnya 200.000 ton limbah tailing dibuang ke perut bumi Papua oleh PT Freeport.[1] PT Freeport di Papua telah merusak bahkan mengeruk gunung Ersberg yang dianggap keramat oleh penduduk sekitar, dan gunung Grasberg yang letaknya berdekatan adalah i target selanjutnya.  Pengerukan gunung di Papua telah mencemari lingkungan.  Lebih dari 1,2 milyar ton limbah tailing PT Freeport telah dibuang ke lingkungan sekitar dan ini  terus bertambah sedikitnya 200.000 ton tiap hari.[2] Penduduk sekitar pertambangan tidak dapat mengambil manfaat dari hutan, karena gunung yang dikeramatkan dan habitat hewan telah dirusak.  Kaum perempuannya tidak dapat melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya, karena sungai-sungai sudah tidak dapat dipergunakan untuk mencuci dan keperluan lainnya.  Tenaga kerja yang dibutuhkan juga dari kalangan laki-laki.Artinya perempuan di Papua kehilangan pencaharian ataupun pekerjaannya.

Begitu pula di Kalimantan, kelompok swadaya ibu-ibu dari suku Dayak Kaharingan bercerita bagaimana mereka semakin terdesak ke tengah hutan. Akibatnya tidak sederhana.Dengan makinmasuk ke dalam hutan, berarti mereka makin jauh dari akses publik untuk hidup sehari-hari, padahal hutan saat ini berbeda dengan hutan 25 tahun yang lalu misalnya. Saat ini mereka makin sulit jika harus bergantung 100% terhadap hasil hutan baik untuk makan maupun kesehatan. Belum lama, seorang mahasiswa dari Dayak Kaharingan bercerita kepada saya bahwa mereka pun makin terdesak karena tiba-tiba pusat belajar komunitas yang mereka bangun sudah diklaim sebagai milik perusahaan tertentu.[3]

Provinsi Kalimantan Selatan menjadi wilayah pengerukan batu bara terbesar kedua di Indonesia dengan produksi kadar debu mencapai 976 mikro gram per normal meter kubik, jauh di atas standar baku, yakni 230 mikro gram per normal meter kubik. Sementara di Kalimantan Timur, menueurt keterangan seorang aktif lingkungan, Kahar Al Bahri seperti dikutip; oleh Antara, alokasi pengerukan batu bara mencapai 21,7 juta hektare dengan jumlah Kuasa Pertambangan (KP) mencapai 1212 dengan produksi batubara yang diekspor mencapai 180 juta ton per tahun.Setiap tahun 12,000 (duabelas ribu) hektar lahan pertanian pangan diubahfungsinya menjadi kawasan keruk. [4] Duabelas ribu hektar alih lahan pertanian/th, adalah sama dengan peniadaan lapangan kerja untuk lebih dari 120 ribu tenaga kerja, dan lebih dari 75% adalah perempuan. Artinya secara tidak langsung telah terjadi domestifikasi perempuan secara masif, dan berpotensi melahirkan persoalan baru, bagi perempuan maupun masyarakat penduduk setempat secara umum.

Saya yakin daftar cerita itu akan sangat panjang, sepanjang bentangan dari Sabang sampai Merauke. Belum lagi kalau harus kita tambah dengan kerusakan lingkungan yang diciptakan oleh perilaku individu-individu karena gaya hidup sehari-hari yang tidak bersahabat dengan lingkungan.

Apakah tidak ada upaya perlawanan? Jawabnya kita tahu, sudah banyak: perlawanan sosial, perlawanan hukum, perlawanan teologis. Hasilnya? Masih belum membuahkan banyak harapan.

Mungkin saya terdengar getir, namun saya sungguh ingin memulai refleksi saya ini dari realitas seputar isu lingkungan dan perempuan yang memang getir, tanpa harus menjadi sosok yang getir! Saya kira itulah panggilan teologi ekofeminis, mencecap getirnya realitas lingkunan dan perempuan, melakukan analisa dan refleksi kritis, tetapi tetap tidak menjadi getir, melainkan bangkit, bergerak, melahirkan perubahan sosial!

 

Kaum Feminis Mencari Akar Penindasan Perempuan & Penindasan Bumi Pertiwi

Françoise d’Eaubonne, adalah seorang tokoh feminis dari Perancis yang pertama kali melihat kaitanantra sub-ordinasi laki-laki – perempuan dan sub-ordinasi anatra manusia – bumi.[5]  Dan saat ini pemikirannya sudah sangat akrab dalam diskursus sosial dan teologi. Akar dari kerusakan lingkungan kita ternyata tak lain dan tak bukan adalah ideologi patriarkhi, yang memandang dan menempatkan perempuan lebih rendah dari laki-laki, stereotiping sekitar feminitas dan maskulinitas, termasuk didalamnya pandangan mengenai posisi femininitas yang lebih rendah dari maskulinitas.

Penjelasannya? Banyak! Pertama,  hukum silogisme, bahwa perempuam adalah representasi dari sifat feminine, dan laki-laki adalah  representasi dari sifat maskulin, sama seperti bumi adalah representasi dari karakter feminine sedangkan manusia, dalam pemahaman norma laki-laki, adalah maskulin.Maka logikanya, perempuan = feminin = subordinat terhadap laki-laki, maka hal itu setara dengan posisi bumi = feminin = subordinat terhadap manusia. Dalam logika dan kerangka berpikir seperti itulah, manusia, dalam hal ini laki-laki –tetapi juga manusia dengan jenis kelamin dan gender lain yang berpikir dalam kerangka pikir bias laki-laki–, memperlakukan bumi dengan semena-mena, memperkosa bumi demi kepuasan nafsu: ketamakan, keseakahan, kekuasaan….

Francoise d’Eaubonne pada tahun 1974 saat itu sudah dengan tegas mengidentifikasikanbahwa struktur berpikir dan struktur sosial patriarkhis yang membawa penindasan terhadap perempuan itu juga membawa kita kepada cara pikir dan tindakan dominasi atas alam.[6] Dalam ranah teologi, cara pikir seperti itu sangat kuat mulai dari teks-teks di kitab suci agama-agama besar, terutama agama samawi, sampai pada tafsir-tafsirnya.

Kedua adalah, perempuan yang dilekatkan dengan sifat feminin tadi itu selama berabad-abad, baik secara natural maupun kultural, lebih dekat relasinya dengan bumi. Secara natural, femininitas perempuan membawa perempuan menjadi sosok yang caring & nurturing, bernaluri merawat dan memelihara, sebagaimana perannya sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan, yang  kemudian (secara otomatis diharapkan melakukan peran) merawat dan memelihara anak-anak yang dikandung dan dilahirkannya. Peran merawat dan memelihara itu membuat perempuan banyak berhubungan langsung dengan lingkungan dan bumi secara luas dan positif, sedangkan laki jika berhubungan dengan bumi lebih secara negatif (berburu). Perempuan menjadi bukan hanya secara otomatis lebih caring  terhadap bumi dan segala yang hidup, namun juga menjadi lebih mudah mengidentifikasikan diri dengan bumi yang melahirkan banyak kehidupan. Sementara itu secara kultural, secara training, perempuan selama berabada-abad lebih diakrabkan dengan dunia domestik dan bercocok tanam yang lebih dekat dengan alam, maka lagi-lagi, perempuan menjadi sahabat alam, sedangkan laki-laki menjadi musuh alam.

Yang ketiga adalah di dalam masyarakat yang patriarkhis, maka laki-laki adalah pusat kekuasaan, dan segala jenis kepemilikan, apalagi kepemilikan tanah, adalah di tangan laki-laki. Dalam hal demikian, maka penggunaan tanah sepenuhnya adalah dalam perspektif dan pengalaman hidup laki-laki. Karenanya revolusi hijau di bidang pertanian dan perkembangan teknologi pertanian, sejauh ini, masih sangat bias laki-laki; diciptakan untuk sebesar-besarnya keuntungan; diciptakan menurut dan untuk kepentingan laki-laki dan tanpa mempertimbangkan. Sebagai akibatnya adalah kerusakan lingkungan yang berkepanjangan, dan peminggiran perempuan secara sistematif dan berlanjut.

Sementara kembali kepada isu kerusakan lingkungan, serta melihat kedekatan relasi perempuan dengan alam, maka tidaklah sulit untuk menunjukkan, bagaimana kerusakan bumi adalah peminggiran berkelanjutan bagi kaum perempuan. Apa yang kita lihat di negeri ini, seperti dalam pengantar di atas, adalah sungguh nyata dan kasat mata, dan tak terbantahkan.

Dengan kata lain, sudah pasti, ideologi patriarkhi layak dijadikan tertuduh bagi tindakakan perusakan bumi yang terus-menerus ini.

Pertanyaan yang muncul adalah: apakah sesederhana itu? Apakah jika patriarkhi berakhir, maka persoalan relasi manusia-bumi, dan sesama manusia juga akan menjadi lebih berkeadilan?[7] Patriarkhi adalah akar ketimpangan relasi gender, apakah ketika relasi gender sudah terslesaikan, maka otomatis cara pandang manusia terhadap bumi juga akan berubah, dan kita pun bisa segera menyelamatkan bumi dari kerusakannya?

Perjalanan gerakan gender dan gerakan feminisme secara umum selama lebih dari setengah abad, –kalau kita hitung dari gerakan feminis gelombang kedua, sekitar 1960an (berdasarkan sejarah perkembangan feminisme di Amerika)[8]–, atau juga sejak munculnya gerakan ekofeminisme sekitar pertengahan 1970an, ternyata justru makin membukakan mata kita, bahwa persoalannya jauh lebih kompleks dan tidak bisa merujuk pada satu ideologi tunggal: patriarkhi. Bahwa ideologi patriarkhi memiliki peran besar di dalamnya, saya kira tidak ada perdebatan lagi di antara kaum feminis. Namun penting bagi kita untuk melihat bahwa dia bukan satu-satunya akar masalah, dan karenanya mencoba “singling out” atau identifikasi persoalan sebagai merujuk pada satu akar persoalan yang tunggal, rasanya tidak memadai lagi. Sebaliknya, justru akan mengaburkan analisis kritis kita dan melemahkan gerakan ekofeminisme yang ingin kita bangun.

Kisah Lina dari Lampung: Kita Hidup di Dalam Struktur Berpikir & Struktur Sosial Multipidamida

Saya bertemu dengan Lina, seorang perempuan muda, atau remaja, sekitar 16 tahun, di Kuala Lumpur, menjelang hari-hari terakhir dia akan pulang kembali ke kampung halamannya di Lampung. Konversi lahan pertanian tradisional besar-besaran menjadi lahan kelapa sawit di Lampung telah mengurangi kepemilikan lahan petani kecil, dan juga pada gilirannya merusak lahan pertanian. Perubahan iklim yang makin sulit diprediksi membuat banyak petani yang masih tersisa tidak lagi beraktifitas di bidang pertanian. Jadilah keluarga Lina dengan 4 orang adiknya, tanpa mata pencaharian. Hal ini memebawa Lina meninggalkan keluarga dan kampung halamannya ke Kuala Lumpur sebagai TKW.

Setelah dua kali lari dari majikan yang “super galak”, yang memaksanya  bekerja nyaris 24 jam tanpa istirahat, Lina sesungguhnya kemudian mendapat majikan yang baik. Yang memperlakukannya sebagai manusia. Namun majikannya yang baru tidak bisa lama-lama mempekerjakan Lina, karena dia tidak bisa mempekerjakan Lina di restorannya tanpa harus diketahui oleh publik. Dan kalau ketahuan publik, Lina bisa dilaporkan, ke agennya atau ke polisi, karena sekarang Lina tidak memiliki dokumen apapun.

Semua dipegang oleh agen, dan agen tidak mau menyerahkan dengan alasan Lina melarikan diri. Ketika majikannya yang baru ingin menyelesaikan secara terbuka dengan agen, maka majikan yang baru ini ahrus membayar sejumlah denda atas pelarian Lina, dengan catatan dokumen tetap akan dipegang oleh agen. Tidak ada harapan untuk Lina!

“Sebenarnya saya tidak ingin pulang, karena saya tahu tidak ada yang bisa saya lakukan di kampung. Padahal bapak, ibuk, dan 4 adik saya perlu makan. Tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan bapak sama ibuk saya lagi. Adik-adik saya masih kecil…”

Dalam kisah Lina, persoalannya sangat kompleks! Ada persoalan kebijakan pemerintah mengenai konversi lahan yang tidak memiliki perspektif gender, ada persoalan kerusakan lingkungan yang disebabkan baik oleh faktor kebijakan pemerintah maupun perubahan iklim yang sudah diluar kendali manusia, ada persoalan kapitaslime global yang turut memperparah kerusakan lahan dan lingkungan di Lampung maupun juga di negeri jiran yang membawa Lina terlunta-lunta dan doubled victimized atau terkorbankan untuk kesekian kalinya, ada persoalan kelas, bahkan di dalam satu ketegori yang sama, yaitu permpuan, karena dua majikan Lina yang jahat dan super galak tadi adalah juga perempuan (sama seperti kebanyakan majikan yang menganiaya PRT mereka adalah perempuan), begitu juga majikan ketiga yang baik, tetapi tidak berdaya melawan sistem, adalah juga perempuan.

Kisah Lina di atas, hanya satu penggalan kecil bahwa membedah persoalan kerusakan lingkungan dan dampaknya bagi perempuan sudah tidak lagi sesederhana yang kita pikirkan. Pisau bedah yang akan kita pakai dalam analisa ekofeminisme kita haruslah ibarat pisau Swiss, tidak tunggal, mampu membedah dan mengurai akar-akar persoalan yang saling terkait.

Elisabeth Scchussler Fiorenza sudah lama berhenti mengidentifikasi patriarkhi sebagai akar tunggal penindasan perempuan, melainkan pater-kyriarkhi, atau dominasi dua ideologi besar yaitu patriarkhi yang memandang rendah perempuan dan menempatkannya sebagai mahluk kelas dua, dan kyriarkhi, ideologi yang lebih besar lagi, yaitu yang percaya bahwa relasi kekuasaan di dunia ini hanya ada satu jenis, yaitu antara para tuan –mereka yang menguasai dan mendominasi— dengan para hamba – mereka yang dikuasai dan didominasi. Relasi kekuasaan berdasarkan power-domination/power over, seperti itulah yang diciptakan dan dilanggengkan melalui sistem politik, agama, sosial-budaya, ekonomi, dan tentu saja, gender.

Iideologi pater-kyriarkhe seperti yang dimaksud oleh Schussler Fiorenza, adalah kawinnya para patriach (kaum laki-laki) dan para kyrie (para tuan/penguasa), dalam mencoba mengukuhkan posisi dominasi mereka. Perkawinan dua ideologi besar tersebut melahirkan struktur masyarakat dominasi yang lebih rumit dari sekedar piramida patriarkhi yang membagi piramida dalam dua bagian dominasi: laki-laki atas perempuan. Schussler-Fiorenza memberi contoh gambaran rumitnya struktur dominasi tsb, bahkan di dalam struktu satu agama, Roman Katholik (darimana dia berasal), yang dia namai piramida konstantine (lihat gambar piramida di bawah).[9] Di dalam “ruang perempuan yang menajdi dasar piramida” kita menemukan piramida kecil yang puncaknya menyeberangi garis batas ruang perempuan, masuk ke ruang laki-laki. Artinya ada sekelompok perempuan yang dalam struktur berpikir teologis kita yang ternyata posisinya lebih tinggi dari laki-laki. Piramida di dalam ruang perempuan itu terlihat berlapis-lapis yang menunjukkan sistem teologis kita juga membagi perempuan di dalam kelas, sehingga perempuan, di dalam sistem berpikir teologis kita bukanlah satu identitas tunggal. Demikian pula di dalam ruang laki-laki yang merupakan setengah bagian atas dari piramida patriarkhi, ternyata kita dapati piramida lain, yang dasar piramidanya menyeberangi garis batas ruang laki-laki, masuk ke ruang perempuan.

Piramida Schussler-Fiorenza membuka mata kita bahwa dalam strukture berpikir teologi kita saja, kita sudah dipenjarakan dalam multi-layer pyramide. Jika kita tarik dalam kehidupan sehari-hari, maka kita akan menemukan bahwa hidup kita dibatasi oleh begitu banyak sistem berpikir: teologis, sosiologis, politis, ekonomis….dst, maka segera kita bisa melihat bahwa kita hidup di dalam tumpukan lapisan sistem dan struktur berpikir serta sistem dan struktur sosial yang berlapis-lapis. Dalam posisi seperti itu, kesadaran bahwa setiap diri kita membawa identitas multi menjadi sangat penting, karena dengan kesadaran itu kita bisa bergerak dengan sadar dan kritis, dari satu piramida ke piramida yang lain, dari satu identitas ke identitas yang lain.

TOLONG INSERT GAMBAR PIRAMIDA YANG SAYA KIRIM DISINI. terimakasih

Analisis Ekofeminis: Logika Dominasi dalam Piramida Multilapis

Dalam kisah Lina di atas, cara pikir pemerintah dan pengusaha yang beranjak dari dan berfokus pada produksi telah menelorkan kebijakan yang sangat tidak pro orang miskin dan perempuan. Menurut Vandana Shiva, kesalahan sudah dimulai pada definisi mengenai ranah yang dianggap produksi, yaitu mengendai pengertian dan definisi tentang yang produktif dan tidak produktif. Menurut konsep yang sudah diterima oleh umum, yang sangat bias laki-laki, sesuatu dianggap masuk ranah produktif ketika sudah ada internvesi teknologi dan tenaga yang sayangnya adalah bias laki-laki tadi. Contohnya adalah hutan di Kalimantan yang kaya akan keaneragaman hayati dan menjadi sumber kehidupan bagi sejumlah suku dan sub-suku di Kalimantan tidak masuk dalam kategori hutan produktif, karena tidak pernah ada jamahan traktor, atau benih pabrikan, atau tangan-tangan insinyur pertanian dengan berbagai teorinya. Sama seperti mata air yang mengalir dari pegunungan, dan menghidupi jutaan orang yang dilewati sungai tersebut juga tidak dianggap sebagai produktif sampai datang para investor, memasang bendungan berkatup, atau memasukkan air ke dalam botol dan menjualnya ke masyarakat yang sebenarnya tidak membutuhkan botol-botol plastik tadi.[10] Fakta bahwa selama ribuan tahun sebelum ada internvensi teknologi alat berat dan internvensi pabrikan tadi sudah ada tangan-tangan perempuan dan laki-laki, tetapi terutama perempuan, yang membuat hutan dan sungai mampu nenghidupi ribuan penduduk di sekitarnya, tidak bisa diperhitungkan sebagai sebuah proses produksi. Saya katakan terutama perempuan, karena dengan gender divisioan labor tradisional seperti diuraikan di atas, perempuan yang lebih banyak secara langsung berinteraksi dan memanfaatkan sumberdaya alam tersebut.

Dalam analogi demikian, kerja perempuan dalam mengambil air bersih dari mata air sampai di atas meja makan, dan atau mengambil hasil hutan dan mengubahnya menjadi makanan di atas meja makan atau bahkan di warung-warung kecil di depan rumahnya tidak masuk dalam kategori produktif.  Masih menurut Shiva, perempuan –khususnya di pedesaan seperti Lampung dan Kalimantan—beraktifitas di ranah ekonomi subsistense, berproduksi dan reproduksi dalam kemitraan dengan alam, menjadi ahli di bidangnya secara lebih holistis dan ramah lingkungan. Namun model pengetahuan, keahlian, dan bidang produksi yang mereka lakukan itu tidak dakui oleh teori kapitalisme dan kaum reduksionis.

Menurut Shiva, kita perlu berhati-hati dengan pandangan yang selama ini seperti sudah diamini oleh dunia modern (diperkenalkan oleh Francois Bacon) bahwa “knowledge is power”.  Dalam teori Bacon, pengetahuan adalah sumber kekuasaan, karena pengetahuan sanggup menghasilkan keuntungan, memperbesar kemampuan dan kekuasaan manusia.  Shiva menganggap hal tersebut sebagai tradisi epistemologi Barat yang membawa kekuatan patriarkis dan bersifat reduksionis.  Hal ini disebabkan karena tradisi pemikiran itu mengubah kemampuan manusia untuk mengetahui alam dengan menyingkirkan cara-cara mengetahui yang berbeda yang memiliki paradigma lain, yang tidak berbicara keuntungan dalam perspektif material dan ekonomis semata, dan sekaligu pelaku pengetahuan lain tadi.

Dalam hal ini, pembangunan sebagai syarat modernisasi lebih diarahkan untuk merekayasa sesama manusia serta memperalat masyarakat untuk menaklukkan alam.  Alam dan lingkungan hanyalah benda mati yang tak memiliki kehidupan.

Kembali ke kasus Lina, tanah-tanah di Lampung, sama seperti juga di Jambi, Kalimantan, di Papua, dialihfungsikan dari “lahan tidak produktif” menjadi “lahan produktif” karena konsep produktif dan non-produktif yang sejak awal sudah salah, salah kaprah, dan sama sekali tidak mempertimbangkan perspektif perempuan. Maka kritik harus sudah kita mulai kepada paradigma awal mengenai yang produktif dan tidak produktif. Dalam konteks kesadaran gender dan upaya pencapaian MDGs, dimana kesetaraan gender adalah salah satu dari 8 tujuan, maka bicara mengenai pendidikan, tenaga ahli dan teknologi, sudah bukan lagi dominasi laki-laki. Persentasi jumlah perempuan  di pendidikan tinggi, di pengembangan teknologi, dan di struktur politik/birokrasi semakin tinggi. Namun persoalannya, perspektifnya tidak banyak berubah. Dalam konstelasi piramida berlapis, peningkatan jumlah perempuan di semua lini belum disertai dengan kesadaran akan identitas yang berlapis seperti yang digambarkan oleh Elizabeth Schussler-Fiorenza di atas.

Dengan memakai lensa piramida Schussler-Fiorenza maka kita bisa melihat bahwa perempuan, dalam kapasitas yang berbeda-beda juga sangat berpotensi menjadi pelaku perusakan lingkungan, dan bukan hanya menempati posisi korban/terdampak. Mungkin di antara para ahli pertanianyang datang ke kampung Lina dan memaparkan teori yang muluk-muluk tadi juga di antaranya adalah perempuan, yang cerdas, dan mungkin juga baik hati, namun karena identitas diri yang dipengaruhi oleh status sosial, pendidikan, ekonomi, dll, membuat dia sulit melihat perspektif perempuan pada posisi Lina.[11]

Masih memakai lensa multi-piramida Schussler-Fiorenza, kita bisa memperluas jangkauan pandang kita, dan melihat bahwa bukan hanya karena posisi kelas seperti di atas itu yang membuat perempuan dalam hal kerusakan lingkungan bukan hanya memiliki identitas sebagai korban, melainkan juga sebagai pelaku. Selama berabad-abad, perempuan telah dijadikan sasaran pasar berbagai macam ideologi, dan telah lama menjadi pembeli terbesar ideologi kecantikan yang sangat bias: Barat, Putih, laki-laki, kapitalis. Sebagai pembeli terbesar produk kecantikan yang sebenarnya tidak diperlukannya, maka perempuan telah turut serta dalam melakukan perusakan lingkungan melalui penumpukan limbah kimia yang mestinya bisa dicegah. Begitu juga dengan tawaran pola hidup konsumtif yang membombardir masyarakat, telah menjadikan perempuan sebagai pembeli utamanya, dari soal fesyen, barang-barang rumah tangga, makanan, dll. Pola hidup konsumtif jelas jauh dari perspektif ramah lingkungan.

Selanjutnya, konversi dari non-produktif ke produktif tadi pun dilakukan dengan harus membayar harga berupa kerusakan lingkungan, karena dalam paradigma kapitalisme, alam (sama seperti manusia) hanyalah sumberdaya, yang harus dikelola untuk produksi yang maksimal. Lagi-lagi di sini yang berlaku adalah konsep dominasi: yaitu manusia atas alam, atau yang dalam konsep teologi kita kenal sebagai antroposentris.

Berikutnya adalah faktor agama. Kerusakan lingkungan dan dampak turunannya seperti dalam kasus Lina adalah kegagalan agama-agama besar di dunia. Saya berkayaninan bahwa semua orang yang terlibat dalam pemiskinan sistematis Lina dari lampung dan Lina-Lina yang lain adalah orang yang beragama. Sayangnya semua agama besar tadi lahir dan menyebar dengan kecongkakan pola pikir dominasi. Kembali pada lensa piramida Schussler-Fiorenza, dapat kita lihat bahwa dalam piramida agama, maka relasi dominasi yang terjadi adalah Kristen-non Kristen. Saya yakin begitu pula kalau piramida ini adalah piramida agama lain, semisal Islam. Nah dalam paradigma agama-agama besar, maka yang masuk dalam agama lain ini pun masih diurut lagi, dan yang ada di paling bawah adalah agama-agama suku, seperti Kaharingan di Kalimantan, Kebatinan di Jawa Tengah, agama Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu di Jawa Barat,[12] danagama-agama suku di pedalaman di Indonesia seperti di Nias, Mentawai, Jambi, Papua, dll. Dan yang menarik serta tidak terbantahkan lagi adalah bahwa dalam hampir semu agama suku tsb, perempuan mendapatkan pengharagaan dan posisi yang cukup tinggi, karena Yang Ilahi yang mereka sembah ada dalah sosok perempuan atau feminine, atau hermaprodit, dan biasanya tidak terlepaskan dari alam dan kebesarannya. Dengan demikian, alam bukan hanya dilihat sebagai sahabat atau mitra dalam hidu, apalagi sebagai sumberdaya untuk eksploitasi ekonomi, , melainkan sebagai yang layak mendapatkan penghargaan lebih, sebagai sesuatu yang lebih tinggi dari kita, karena kita semua lahir dari rahim alam. Agama-agama besar, terutama agama Samawi, merusak cara pandang yang menghargai alam secara tinggi seperti itu. Rosemary Radford Ruether dengan gamblang menujukkan upaya-upaya sistematis penancapan kuku ideologi dominasi para tuan dan laki-laki dalam agama, melalui penyingkiran agama-agama yang menghargai perempuan, femininitas, dan bumi, penggantian symbol-symbol feminin Allah menjadi maskulin, dan penggantian makna atas symbol-symbol deity dalam diri/figur perempuan. Hasilnya bisa sangat mencengangkan, misalnya, dalam tafsir Reuther, kisah Maria adalah salah satu contoh upaya demitologisasi posisi perempuan dari dewa menjadi hamba….[13]

 

Membangun Upaya Teologi-Ekofeminisme di Indonesia

“Nature shrinks as capital grows. The growth of the market cannot solve the very crisis it creates [14]

Dengan kutipan di atas saya hendak menegaskan dua hal: yang pertama, bahwa upaya membangun teologi yang eko-friendly merupakan sesuatu yang sifatnya sudah mendesak, karena kondisi alam kita benar-benar makin memprihatinkan. Kita dipanggil untuk selalu memiliki sistem alarm, yang akan terus berbunyi manakala kita mendengar laporan statistik mengenai pertumbuhan pasar, karena seperti dalam kutipan di atas, pertumbuhan pasar/kapital saat ini selalu berbanding terbalik dengan kondisi lingkungan.

Yang kedua, dalam kondisi alam yang sudah demikian rusak, dan makin menguatnya ideologi pasar yang merasuk ke semua sendi kehidupan, upaya membangun teologi-ekofeminis tidak bisa lagi hanya konsern di sekitar isu-isu teologis, namun benar-benar harus bersentuhan dan menjawab langsung persoalan dan tantangan ekologis dan semua dampak ikutannya. Refleksi teologis yang kita bangun harus mampu secara kritis melihat nilai-nilai dominasi dalam segala bentuk dan di semua lini, yang telah menjadi sumber malapetaka global ini.

Selanjutnya, teologi ekofeminisme tidak bisa lagi hanya meromantisir posisi perempuan pedesaan di masa lalu, dimana perempuan adalah sosok yang lembut, pemelihara, sahabat alam. Dalam struktur berpikir dan struktur sosial yang jauh lebih kompleks seperti saya paparkan dimuka, teologi ekofeminisme harus berani menantang perempuan untuk melihat bahwa dirinya juga berpotensi menjadi pelaku perusakan dan secara langsung naupun tidak langsung juga sudah menjadi salah satu motor pelaku perusakan lingkungan.

Sementara benar bahwa perempuan lebih banyak menjadi yang terdampak dan korban dalam kerusakan alam yang sistematis ini, tantangan kita bukan lagi hanya pada menghentikan kerusakan alam, namun juga seluruh lingkaran jahat yang sudah terlanjut terbentuk. Misalnya, seorang teman menyatakan keheranannya karena sebagian perempuan di pedalaman Kalimantan sekarang sudah tidak peduli lagi pada keselamatan hutan dan sumber air bersih di desa mereka. Anak-anak mudanya, laki-laki maupun perempuan, sekarang juga lebih suka makan mie instan daripada sayur-sayur dari daun-daunan yang diambil dari hutan, seperti daun pakis misalnya. Sekilas ini bukan merupakan isu lingkungan, namun jika kita lihat lebih dekat lagi, semua ini terkait dengan sistem pasar dan kerusakan lingkungan yang ada, yang juga harus dijawab oleh teologi-ekofeminisme. Ideologi pasar dan produk instan yang membombardir masuk ke setiap sudut rumah kita, ke rumang tamu, ke kamar tidur, dapur, dan toilet, tanpa ampun; lingkungan yang sudah rusak dan tidaka memadai lagi sebagai penyedia sumber kebutuhan sehari-hari adalah bagian dari lingkaran setan yang harus dipecahkan.

Akhirnya, dalam rangka menjawab semua tantangan yang ada di muka tadi, teologi ekofeminis yang hendak kita bangun nampaknya menyangkut semua aspek, bukan hanya praktika melainkan juga sistematika dan biblika. Kita harus siap membongkar dogma mengenai keselamatan (dominasi agama Kristen atas agama lain, khususnya agama suku), banyak melakukan tafsir ulang atas teks-teks (dominasi manusia atasu bumi maupun termasuk dominasi Aallah atas manusia dan dominasi laki-laki atas perempuan, dominiasi kaum hetero atas homo, dst), serta membangun etika baru yang lebih ramah terhadap sesama dan alam. Dalam bahasanya Ruether, teologi ekofeminis yang kita bangun harus menandai gerakan perempuan baru yang membawa pada revolusi sosial.[15]

Akhirnya,  sembari kita terusberteologi dan mencoba membangun teologi eko-feminis yang kristis dan kontekstual, marilah kita berhenti dari perilaku sekecil apapun yang merusak atau memperparah kerusakan bumi. Di atas bumi ini dan di dalam rahimnya, ada milyaran jejak, sebagian besar jejak perempuan, yang bersama Tuhan telah menghidupkan bumi ini selama jutaan tahun lamanya.

Jogjakarta, 31Oktober 2011

REFERENSI:

Brata, Nugoro Trinu, PT. Freeport & tanah adat Kamoro : kajian teori-teori antropologi, [Semarang : Unnes Press, 2008]

Iswanti, Tubuh Sakral Perempuan, dihttp://kodratbergerak.blogspot.com/search/label/tubuh%20perempuan

Radford Ruether, Rosemary, New Woman New Earth: Sexist Ideologies & Human Liberation (Mineapolis, the Seabury Press:1975)

Shiva, Vandana, Staying Alive: Women, Ecology and Development (Sedsbooks:1988)

———, Soil Not Oil: Environmental Justice in an Age of Climate Crisis, (South End Press:2008)

Antara news, lihat di: http://kaltim.antaranews.com/berita/2793/foto-kerusakan-lingkungan-kalimantan-pada-hari-perempuan-se-duniahttp://bencanaekologis.blogspot.com/2010/04/avatar-papua-dan-sby.html

http://khoirulfuadi.blogspot.com/2010/04/pemikiran-vandana-shiva-tentang.html

Cerita tutur dari anak asli kaharingan, seorang mahasiswi UGM, yang diceritakan kepada penulis.


[3] Cerita tutur dari anak asli kaharingan, seorang mahasiswi UGM, yang diceritakan kepada penulis.

[5] Françoise d’Eaubonne, memperkenalkan istilah dan konsep ekofeminisme écologie-féminisme, éco-féminisme or écoféminisme, dalam buknya, Le féminisme ou la mort(1974)

[6] Françoise d’Eaubonne, seorang feminis perancis, memperkenalkan istilah dan konsep ekofeminisme écologie-féminisme, éco-féminisme or écoféminisme, dalam buknya, Le féminisme ou la mort(1974)

[7] Menurut Elisabeth Schussler Fiorenza, budaya dan dunia modern sesungguhnya sudah menghapus budaya patriarkhi. Lihat Elisabeth Schussler Fiorenza, Wisdom Ways: Introducing Feminist Biblical Interpretation, (Maryknol, NY: Orbis Books, 2001).

[8] Gerakan feminisme gelombang dua diambil karena gelombang ini ditandai dengan perluasan perjuangan dan isu: ketidakadilan de facto, ketidakadilan dalam hukum, seksualitas, keluarga, tempat kerja, dan hak-hak reproduksi, dll.

[9] Elisabeth Schuessler Fiorenza, Wisdom Ways

[10] Vandana Shiva, Staying Alive: Women, Ecology and Development (Sedsbooks:1988)

[11] Saya membandingkan dengan posisi menteri keshatan kita saat ini, yang adalah seorang perempuan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH, yang mengeluarkan peraturan mentari mengenai sunat perempuan (Permenkes No 1636/Menkes/Per/XI/2010), padahal meneteri sebelumnya sudah mengeluarkan surat edaran pelarangan sunat perempuan.

[12] Lihat dalam tulisan Iswanti, Tubuh Sakral Perempuan, dihttp://kodratbergerak.blogspot.com/search/label/tubuh%20perempuan

[13] Rosemary Radford Ruether,  New Woman New Earth: Sexist Ideologies & Human Liberation (Mineapolis, the Seabury Press:1975)

[14] Vandana Shiva, Soil Not Oil: Environmental Justice in an Age of Climate Crisis, (South End Press:2008)

[15] Ruether, 204-211

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s