Home

TEOLOGI FEMINIS ASIA: Upaya Membangun Teologi Kontekstual yang Kritis & Membebaskan[i]

(Sebuah Risalah Singkat)

Oleh Anna Marsiana[ii]

 

“A woman is in all things inferior to the man,” (Flavius Josephus, sejarahwan Yahudi abad pertama)[1]

A man must pronounce three blessings each day: ‘Blessed be the Lord who did not make me a heathen; blessed be he who did not make me a woman; blessed be he who did not make me an uneducated person.’” (Rabbi Judah)[2]

Women are the devil’s gateaway” (Tertulianus, teolog besar dari Afrika, 1912)

Pengantar:Teologi Perempuan atau Teologi Feminis?

Berteologi dari perspektif perempuan, perempuan berteologi, womanist theology, mujerrista theology, adalah nama-nama yang diperkenalkan di awal-awal lahirnya teologi feminis di negara-negara yang dikenal sebagai negara dunia ketiga di sekitar tahun 1970an akhir hingga 1990an. Kwok Pui Lan pada tahun 1993 mencatat bahwa ada keraguan besar untuk mennggunakan istilah teologi feminis di kalangan para teolog, bahkan di kalangan para teolog feminis sendiri.[3] Ada beberapa alasan yang melatar belakangi keraguan penggunaan istilah feminis bagi teologi yang saat ini kita kenal dengan nama teologi feminis. Alasan yang terkuat adalah karena teologi feminis dilihat lahir di Barat dengan konteks pergumulan yang bukan hanya berbeda dengan konteks di Asia dan negara-negara berkembang lain, melainkan juga bertolak belakang. Perempuan kulit putih dibanding dengan laki-laki kulit putih memiliki posisi yang subordinat dan banyak hal. Namun dalam konteks relasi orang kulit putih, kulit berwarna dan kulit hitam, di Amerika misalnya, maka jelas terlihat bahwa kondisi perempuan kulit putih yang subordinate di hadapan laki-laki kulit putih ternyata jauh lebih baik dibanding kondisi laki-laki kulit hitam dan berwarna, dan karenanya adalah superior di hadapan laki-laki kulit hitam dan berwarna. Dalam konteks seperti itu bisa dijelaskan bahwa terminologi teologi feminis tidak dengan mudah dan begitu saja bisa diterima dan diadopsi dalam konteks pergumulan perempuan di Afrika, Amerika Latin, Afro-Amerika, dan Asia.

Selain oleh perbedaan konteks seperti di atas, masih ada beberapa alasan mengapa sampai hari ini, di Asia, teologi feminis masih belum sepenuhnya mendapatkan tempat. Masih ada banyak keraguan untuk menggunakan terminologi teologi feminis. Ada yang khawatir dicap sebagai kebarat-baratan, ada juga yang khawatir ditolak karena kata feminis dinilai terlalu keras terdengar di telinga lelaki maupun juga perempuan. Sampai hari ini masih banyak orang menghindari penggunaan istilah teologi feminis, dan memilih memakai istilah yang lain yang dinilai lebih halus.[4] Asian Women’s Resource Centre for Culture and Theology (AWRC) misalnya adalah sebuah organisasi teolog feminis di Asia yang pertama dan secara konsisten menerbitkan jurnal teologi feminish In God’s Image sejak tahun 1982, yang diakui kritis dan konsisten melakukan kritik atas teologi tradisional. Namun demikian dokumen-dokumen sejarahnya menunjukkan bahwa dia juga belum berani memakai kata teologi feminis pada awal kelahirannya sampai pada 20an tahun kemudian. AWRC memilih memakai kata teologi perempuan/berteologi dari perspektif perempuan, atau perempuan berteologi daripada teologi feminis pada awal kelahirannya, dan  baru memutuskan untuk melakukan review pada tahun 2010.

Namun pelan-pelan istilah maupun keberadan teologi feminis semakin diterima di kalangan intelektual, termasuk teolog, maupun juga masyarakat luas (untuk tidak mangatakan awam).

Sekilas tentang Teologi Feminis

Dari uraian di atas sekaligus bisa dilihat bahwa sejak awal kelahirannya, para teolog feminis ini sadar bahwa di bawah satu nama/kategori “teologi feminis” ada beragam isi dan konteks yang belum tentu pas satu dengan yang lainnya. Dalam kenyataannya memang ada banyak ragam jenis teologi feminis. Ada beberapa klasifikasi yang dilakukan dengan menggunakan kriteria yang berbeda-beda. Salah satunya yang dilakukan oleh Ron Rhodes dalam tulisannya mengenai perdebatan di sekiatr teologi feminis. Dia mengkategorikan teologi feminis dalam dua kelompok besar yaitu liberal & evangelical:

Teologi feminis liberal menurut Rhodes memakai pendekatan yang sangat liberal, misalnya mempercayai bahwa Alkitab harus ditinjau ulang karena ditulis oleh laki-laki dengan pespektif mereka yang terbatas, mengajarkan hermeneutik kecurigaan (hermenutic of suspicion by Elisabeth Schussler-Fiorenza) yang menasumsikan bahwa penulis Alkitan yang adalah laki-laki dan para teolog penafsir Alkitan yang juga laki-laki itu telah dengan sengaja membungkam, menghilangkan peran perempuan di awal-awal kekristenan. Dengan hermeneutik seperti itu,menolong kita untuk menemukan capa pandang baru atas teks-teks Alkitab yang dinilai tidak sesuai dari perspektif perempuan.

Teologi feminis evangelis tetap meyakini Alkitab sebagai firman Allah, dan memiliki pandangan teologis yang cenderung masih konservatif, namun percaya bahwa perempuan berhak dihormati dan ditempatkan setara dengan laki-laki. Maka biasanya mereka akan mencari ayat-ayat Alkitab yang bisa menjadi landasan bagi cara pandang mereka itu, namun tidak bersikap kritis atas teks-teks yang jelas-jelas mendiskriminasikan perempuan. Lebih memilih untuk menghindarinya.[5]

Namun para teolog feminis yang tergabung dalam AWRC tidak begitu tertarik dengan pengelompokan-pengelompokan semcam itu. Sebaliknya mereka percaya bahwa teologi feminis memang bukan sebuah entitas tunggal melainkan jamak, beragam. Masing-masing adalah valid dalam konteksnya masing-masing, dan tetap harus dibaca dari social location masing-masing (penulis maupun pembacanya). Namun demikian di dalam keragamannya ada kesamaan dalam benang merah yang bisa ditarik yaitu:

-           semua bermula dari kesadaran perempuan akan struktur ketidakadilan yang berlapis, yang ketika dirunut ternyata banyak berakar dari keyakinan, tafsir, ajaran, dan teks-teks agama yang bias gender.[6]

-           semua berangkat dari pengalaman ketertindasan perempuan sebagai titik berangkat berteologi. Poin kedua ini sangat krusial bukan hanya karena dalam teologi tradisional titik berangkat berteologi adalah pertanyaan-pertanyaan abstrak dan ontologis mengenai Allah, melainkan juga karena selama sekian abad dunia dibuat percaya bahwa perempuan tidak memiliki pengalaman yang berharga untuk didengar, apalagi dijadikan titik berangkat berteologi.

-          karena berangkat dari pengalaman, maka para teolog feminis percaya otoritas berteologi ada pada setiap orang, dan bukan hanya pada mereka yang berpendidikan teologi. Dalam hal ini sering dikatakan bahwa teologi feminis adalah saudara perempuan dari teologi pembebasan.

Secara garis besar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teologi feminis juga tidak jauh dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teologi pada umumnya, hanya jawabannya dan cara menemukan jawabannyalah yang berbeda:

  • Bagaimana kita berteologi? Seperti disinggung diatas, atas pertanyaan ini teologi feminis mempertanyakan otoritas berteologi  pada teolog yang telah menciptakan sistem berpikir dan berteologi yang membuat kaum perempuan bersama kaum tertindas yang lain menjadi semakin terpinggir dan tertindas.
  • Siapakah Allah? Teolog feminis bersepakat untuk melihat Allah sebagai non-gender atau pun juga multi gender. Karena teolog feminis percaya bahwa bahasa itu tidak netral, bahasa itu sangat mempengaruhi cara pandang dan pemahaman kita tentang siapa Allah dan esensi Allah dalam kehidupan kita.
  • Dimanakah perempuan dalam sejarah kekristenan? Para teolog feminis percaya adalah penting untuk menemukan kembali perempuan dan peran yang telah mereka mainkan dalam sejarah kekristenan dan terhilang atau dihilangkan dalam berpajalanan sejarah. Maka berbagai upaya dilakukan untuk menemukan mereka kembali sejadk dari masa-masa di dalam kisah di Alkitab, jemaat perdana, awal kekristenan hingga abad perterngahan dan masa penyebaran kekristenan di Asia oleh para misionaries.[7]

Maka berbicara mengenai teologi feminis adalah berbicara sebuah range teologi yang luas meliputi:

-          Study biblis

-          Ekklesialogi

-          Kristologi

-          Mariologi

-          Sejarah Gereja (dari perspektif feminis)

-          Spiritualitas (dari perspektif feminis)

-          Liturgi

-          Queer

-          ….

Teologi Feminis: Bergerak Melampaui Persoalan Perempuan dan Ketidakadilan Gender

Pada awal kelahirannya, gerakan feminis –yang menjadi cikal bakal teologi feminis– berangkat dari kesadaran kaum perempuam akan posisi mereka yang tertindas, dan alasan ketertindasan mereka yang terkait dengan jenis kelamin mereka (seksisme) dan paham-paham yang menyertai dan dibangun di sekitar jenis kelamin (gender), yang diidentifikasikan sebagai berakar dari ideologi patriakhi. Yaitu ideologi yang berpusat pada kekuasaan di tangan laki-laki. Framework berpikir seperti ini cukup lama dihidupi di dalam teologi feminis dan oleh banyak teolog feminis, bahkan sampai saat ini. Namun sebagian teolog feminis mulai melihat bahwa framework bepikir ini memilik kertabasatan dan jebakan yang berbahaya, yaitu, menjebak kita pada dikotomi laki-laki & perempuan.

Elisabeth Schussler-Fiorenza misalnya dengan jelas mengatakan bahwa akar dari ketidakadilan dan penindasan itu lebih kuas dari ideologi patriakarhi, yaitu ideologi pater-kyriakhi. Yaitu dominasi kaum pater & kaum tuan yang berkolaborasi memerintah pada masa pax romana dan berkelanjutan sampai sekarang. Dominasi dari kolaborasi tersebut menghasilkan multi-piramida yang membuat perempuan berada di dasar piramida, namun tidak pada level dan lapis yang sama. Multi piramida tsb juga menciptakan multi identitas bagi semua orang, perempuan, laki-laki ataupun kategori gender yang lain.[8]

Di dalam gambaran masyarakat dengan multi piramidanya tsb, sulit untuk melihat ketertindasan perempuan sebagau isu yang harus didikotomikan dengan laki-laki, terpisah dari isu-isu ketidakadilan yang lain. Artinya teologi feminis tidak bisa lagi hanya fokus kepada pengalaman perempuan sebagai entitas tunggal bernama perempuan berhadapan dengan entitas tunggal yang lain bernama laki-laki. Teologi feminis pun mulai bergerak melampaui persoalan di sekitar ketidakadilan yang menimpa perempuan karena keperempuanannya dan meletakkannya di dalam kerangka sistem yang luas, sistem yang menindas, yang menghasilkan kelompok-kelompok di periferi/pinggiran, yang semakin termarjinalkan dan tertindas. Karenanya teologi feminis dalam perkembangannya tidak hanya memperjuangkan keadilan bagi perempuan melainkan juga bagi kelompok-kelompok lain yang terpinggirkan di dalam sistem multi piramida tsb: kelompom gener ketiga, queer, dan mereka yang karena orientasi seksualnya terpinggirkan, serta kelompok marjinal yang lain seperti masyarakat indigenous, dan kaum miskin pada umumnya. Teologi feminis juga menjadi lebih kritis, dengan melihat identitas perempuan yang tidak tunggal, dan karenanya memliki kapasitas untuk melakukan peran yang berbeda sesuai konteks waktu, persoalan dan tuntutan peran dari identitas yang sedang dibawa dan dimainkannya.

Teologi Feminis Asia: Sejarah & Konteks

Beberapa upaya awal

Greget teologi feminis mulai menggeliat di Asia sejak tahun 70an, dimana terlihat upaya-upaya awal seperti konsultasi-konsultasi teologi seperti yang diinisiali oleh beberapa teolog perempuan yang aktif di EATWOT (Ecumenical Association of Third World Theologians). Beberapa peristiwa sejarah yang bisa disebutkan menandai lahirnya kesadaran berteologi dari perspektif perempuan (feminis) antara laina dalah sbb:

  1. Lahirnya the EATWOT Women Commission (1981 New Delhi -1983 Geneva  ), dimana para teolog perempuan dengan tegas menyatakan sikap dan posisi mereka, karena sementara para mitra teolog aki-lak anggota EATWOT adalah teolog-teolog progressif di masanya, mereka itu tidak sensitif terhadap isu gender, dan karena keterbatasan pengalaman mereka sebagai laki-laki tetap tidak mampu menyuarakan perspektif perempuan di dalam berteologi. Tokoh-tokoh teolog permepuan yang layak diingat pada waktu itu anatra lain adalah Mercy O. Oduyuye dari Afrika & Virginia Fabella dari Filipina. Pada waktu itu, para teolog laki-laki progresif itu tetap tidak bisa menerima ketika seorang teolog perempuan bernama Jacqueline Grant mengganti doa Bapa Kami menjadi Ibu Kami. Fabella mengatakan ada letusan di dalam letusan (Irreption within irreption”.[9]

Kekritisan teologi feminis sudah terlihat sejak awal kelahirannya, diaman tugas dari komisi ini jauh dari gambaran tugas teologi tradisional yaitu sbb:

  1. Melakukan analisis sruktural kondisi ketidakadilan yang menimpa perempuan (sosek, politik, budaya, agama/teologi)
  2. Mendiskusikan emelem patriarkhis di dalam teologi saat itu
  3. Memformulasikan teologi dari perpektif kemanusian yang utuh
  4. Memformulasi teologi kontekstual dari perspektif perempuan (feminis) yang membahas isu-isu seperti KDRT, sejarah gereja, study sumber-sumber di aluar Alkitab seperti folklore, legenda, agama-agama asli dalam relasi posisi dan peran perempuan, menggai spiritualitas perempuan, dll.
  1. Lahirnya jurnal teologi feminis pertama di Asia In God’s Image (1982)sebagai cikal bakal Asian Women;s Resource Centre (AWRC) for culture and theology (1987). Hampir pada waktu yang bersamaan dengan kebangkita di dalam tubuh EATWOT dalam memperjuangkan lahirnya komisi perempuan di EATWOT, beberapa anggota EATWOT, diprakarsai oleh Sun Ai Lee-Park, menginisiasi penerbitan jurnal teologi feminis yang pertama. Dasar dari pemikiran penerbitan jurnal teologi feminis ini adalah tidak adanya sumber-sumber teologi yang bisa mewakili perspektif perempuan, karena tidak adanya wadah untuk itu. Jurnal teologi yang ada selain dikuasai oleh para teolog laki-laki juga dikelola dan diterbitkan dengan memakai standar dan kaidah-kaidah penerbitan dan “standar akademis” yang menurut para tokoh teolog feminis waktu itu (juga sekarang) dinilai sangat maskulin dan bias gender. Kelahiran jurnal IGI ini menandai bangkitanya wacana teologi feminis, karena sejak itu semakin banyak teolog perempuan yang terdorong untuk menyuarakan perspektifnya atas berbagai isu dalam bentuk refleksi teologis maupun tafsir ulang teks-teks Alkitab dan liturgi, ekspresi seni (arts), dan puisi. Dalam perjalanan awalnya, jurnal ini tidak diterima sebagai jurnal ilmiah, karena dianggap jauh dari kaidah-kaidah standar ilmiah (kaku, tersturktur, dengan bahasa baku dsb). Sedangkan jurnal IGI percaya bahwa ekspresi teologi dengan bahasa yang sederhana, membumi, diselingi dengan visual-visual karya seni bukan hanya tidak mengurangi kaidah keilmiahannya melainkan juga lebih sesuai dengan “karakter” perempuan yang lebih balance. Penebitan jurnal ini bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk pemberontakan atas kemapanan cara pikir ilmiah yang kaku dan maskulin serta bias gender.
  1. Lahirnya AWRC sebagai wadah para teolog perempuan & feminis di Asia (1987).

Lahirnya AWRC lebih merupakan kristalisasi dari lima (5) tahun perjalanan jurnal IGI. Semakin banyak teolog perempuan-feminis yang berminat untuk bergabung mendorong untuk didirikannya suatu wadah yang mampu menjadi suatu “rumah” untuk para teolog perempuan dimana merkea bisa “pulang” berbagi cerita, berbagi pengalaman dan refleksi, saling menguatkan, dan memperbarui enerji karena masih kuatnya budaya patriarkhis yang bisa mengeringkan semangat hidup mereka. AWRC didirikan dengan mimpi untuk menciptakan komunitas internasional bagi teolog perempuan untuk mengartikulasikan teologi kontekstual dari perspektif perempuan (feminis) Asia.[10]

Dalam mengembangkan teologinya, maka AWRC berpedoman bahwa teologi feminis di Asia harus mempertimbangkan[11]:

  1. Konteks sosial-politik di tingkat nasiona, regional (Asia) dan global, karena mereka saling terkait dan turut membentuk kehidupan setiap orang di bumi Asia.
  2. Konteks Asia yang multi kultur, dan merupakan rahim dari berbagai agama besar dan spiritualitas di dunia.
  3. Secara tegas melawan segala bentuk hirarki kekuasaan baik yang ada di gereja maupun di masyarakat, dan terutama pandangan yang melihat bahwa perempuan adalah sub-ordinate di hadapan laki-laki.
  4. Ekumenis, lintas budaya, agama, ras, suku, etnis, class, pendidikan, dan mempertimbangkan bagaimana setiap faktor secara terpisah maupun bersama-sama berkontribusi di dalam menciptakan struktur penindasan terhadap perempuan (dan kelompok marjinal lainnya)

Metodologi berteologi

 

Mary John Mananzan meringkaskan dalam tulisannya mengenai metodologi berteologi dari perspektif feminis di Asia ke dalam enam poin. Di bawah ini adalah ringkasan dari tulisannya yang sudah penulis tambahkan dengan pandangan penulis sendiri:[12]

1) Contextualization: Titik berangkat berteologi adalah pengalaman perempuan di Asia dan perjuangan mereka dalam membebaskan diri dari dunia yang didonimasi oleh kekuasaan yang bias laki-laki (atau dalam bahasa penulis bias pater-kyriarkhi). Perempuan mulai menceritakan kisah-kisah mereka secara sadar dan secara politis sehingga mereka mampu melihat dan memahami diri mereka secara lebih baik dalam realitas sosialnya.

2) New biblical hermeneutics: dikonfrontasikan dengan realitas perempuan yang tersisih dan terdiskrimnikasikan, maka pembacaan Alkitan dengan kacamata baru merupakan sesuatu yang mendesak dilakukan. Menginterpretasikankan ulang tes-teks yang mengkonfirmasi sub-ordinasi dan diskriminasi perempuan di dalam konteksnya.

Dan dengan memakai hermeneutic of silence dan hermeneutic of suspicion menemukan kisah perempuan yang terbisukan dan terhilangkan di dalam teks-teks Alkitab dan mengkonfrontasikan dengan realitas perempuan saat ini.

3) Religious and cultural critique: Dengan mempertimbangkan bahwa Asia adalah plural dalam segala hal maka diperlukan kekritisan atas nilai-nilai tradisi dan budaya Asia, mana yang opresif danmana yang membebaskan.

4) Recovery of the authentic value of women’s experience: menggali dan menemukan kembali nilai-nilai autentik spiritualitas perempuan, memisahkan warisan kearifan spiritualitas khas perempuan yang memberdayakan dan membebaskan dari nilai-nilai bersifat mengekang, mengecilkan, memenjarakan, yang ditanamkan (imposed) kedalam keyakinan mereka. Spiritualitas perempuan jauh lebih luas dari keyakinan agama institutional dan teologi remis yang diajarkan.

5) Reinterpretation and reformulation: Ketika perempuan membawa pengalaman persnonal dan analisisnya ke dalam tradisi beragama (baca: berteologi), maka akan lahir bahasa baru, interpretasi baru, dan formulasi-formulasi teologi yang baru, serta simbol-simbol yang baru yang dirasa lebih mewakili dan relevan dengan pergumulan perempuan. Simbol, bahasa, tafsir, dan formulasi baru dalam berteologi ini dibutuhkan bukan hanya untuk kaum perempuan yang berteologi tadi, melainkan juga untuk menjadi referensi berteologi secara umum, mendampingi simbol-simbol, bahasa, dan tafsir teologis yang sudah kian ada.

6) New Vision: Visi akan sebuah komunitas yang baru, komunitas ekklesia, dimana setiap orang berjalan bersama (journeying) untuke mencapai relasi yang berdasarkan penghargaan, kesetaraan, membebaskan, menjadi tujuan yang bergerak danterus diperjuangkan. Dengan kata lain, berteologi feminis bukan hanya di dalam teori, emlainkan selalu juga di dalam refleksi dan aksi. Teologi feminis harus mendorong lahirnya sebuah aksi yang mampu mengubah keadaan, bukan hanya individual melainkan juga sosial & struktural politis.

Teologi feminis harus selalu mapu bersikap kritis, radikal, membebaskan, dan transformatif di semua aspek dan lini: personal, sosial, struktural, di dalam keluarga, gereja, dan masyarakat berbangsa dan bernegara.


[1] Flavius Josephus, Against Apion (Grand Rapids: Kregel Publications, 1974)

[2] H. L. Strack and P. Billerbeck, Kommentar zum Neuen Testament aus Talmud und Midrasch (Munchen, 1893), 2:495; cited by Werner Neuer, Man and Woman in Christian Perspective (Wheaton, IL: Crossway Books, 1990)

[3] Kwok Pui Lan, “the Future of Feminist Theology: An Asian Perspective”dalam Ursula King, ed. Feminist Theology from the Third World: A Reader, (Orbis Books, Maryknol, NY: 1994)

[4] Hingga saat ini masih banyak orang yang melihat teologi feminis adalah gerakan sesat yang mencoba enghancurkan gereja. Pengalaman saya diundang oleh beberapa jemaat di Jawa tengah menunjukkan bahwa masih banyak orang tidak siap mendengar dan menerima baik istilah maupun perspektif yang diperkenalkan oleh teologi feminis, Lihat juga tulisan David.J Steward, Feminist Theology? (Feminisn goses with theology as much as witchcraft goes with theology), http://www.jesus-is-savior.com/Evils%20in%20America/Feminism/feminist_theology.htm (accessed on May 2, 2011)

[5] Lihat Ron Rhodes, The Debate Over Feminist Theology: Which View is Biblical, see http://home.earthlink.net/~ronrhodes/Feminism.html.

[6] Kesadaran ini bisa kita runut balik nun jauh ke belakang pada pergumulan Elizabeth Cady Stanton di tahun 1800an yang menemukan bahwa penindasan kaum buruh dan pekerja perempuan ternyata harus diselesaikan lewat pembacaan dan tafsir ulang Alkitab.

[7] Lihat beberapa tulisan yang dimuat di jurnal IGI, seperti Pauline Chakalak, Women’s Discipleship and Leadership in Jesus’ Movement : An Asian Feminist Theological Reconstruction, IGI Vol 26.2 (2007), Hyun Ju Bae, The Typology of Women’s Leadership in Early Christianit, , IGI Vol 26.2 (2007), Hisako Kinukawa, The Nag Hammadi Codices, The Gospel of Mary and Other Gnostic Documents, IGI Vol 26.2 (20070, dll.

[8] Lihat tulisan-tulisan Elisabeth Schuessler Fiorenza, misal Wisdom Ways: Introducing Feminist Biblical Interpretation, (Maryknol, NY: Orbis Books, 2001);

[9] Virginia Feballa, Beyond Bonding, (EATWOT, Manila:1993)

[10] Firginia Fabella, Asian Feminist Tehology: an Overview, IGI Vol. 26.4, 2007; May John Mananzan, Feminist Theology in Asia: Ten Years Overview, IGI, Vol.14.3. 1995.

[11] Consitution of AWRC, 3-4.

[12] Mary John Mananzan,  ibid.


[i] Dipresentasikan dalam Kursus Nasional Ekumenis Asia (Basic Ecumenical Course), Kerjasama CCA & PGI, di  Wisma Duta Wacana, Kaliurang, 2-15 mei 2011.

[ii] Saat ini adalah Koordinator Asian Women’s Resource Centre for Culture and Theology ( AWRC), Jl. Banteng Utama 38, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s